Dunia di Balik Layar dan Menjaga Fitrah Anak
Kepala Madrasah
15 Juli 2026

Dunia di Balik Layar dan Menjaga Fitrah Anak

Ferdian Rachmatullah Sidiq, S.Sn

Kepala Madrasah · MI Ilham 1

Intisari

Perkembangan teknologi membawa banyak manfaat, tetapi juga menghadirkan tantangan besar bagi pendidikan anak. Media sosial dan internet tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga membentuk cara berpikir, perilaku, dan nilai-nilai yang dianut oleh anak-anak. Karena itu, peran orang tua dan sekolah bukan hanya mengawasi penggunaan gawai, tetapi juga menanamkan iman, akhlak, dan kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi setiap perbuatan (muraqabatullah). Dengan menjadikan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai pedoman, serta membangun komunikasi yang baik antara rumah dan sekolah, insya Allah anak-anak akan tumbuh menjadi generasi yang mampu memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan jati dirinya sebagai seorang muslim.

Dunia di Balik Layar dan Menjaga Fitrah Anak


Dulu, anak-anak bermain di halaman rumah. Sekarang, banyak yang lebih sering bermain di depan layar. Dunia memang berubah, dan kita tidak bisa menolaknya. Teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Masalahnya bukan pada HP atau internetnya. Yang perlu kita khawatirkan adalah apa yang mereka lihat setiap hari.

Media sosial memang bisa menjadi tempat belajar dan mencari informasi. Namun, tanpa disadari, media sosial juga dapat membentuk cara berpikir, kebiasaan, bahkan karakter anak. Mereka setiap hari melihat gaya hidup mewah, budaya pamer, pergaulan tanpa batas, hingga tontonan yang belum tentu sesuai dengan nilai-nilai Islam. Jika terus-menerus dikonsumsi, perlahan semua itu bisa dianggap sebagai sesuatu yang wajar.

Sebagai orang tua, tentu kita tidak ingin hal itu terjadi.

Sering kali kita langsung berkata, "Sudah, jangan main HP terus." Padahal, anak belum tentu memahami alasan di balik larangan tersebut. Akibatnya, ketika tidak diawasi, mereka akan kembali melakukan hal yang sama.

Karena itu, yang paling penting bukan hanya mengawasi layar yang mereka lihat, tetapi juga menjaga hati mereka.

Ketika hati anak dekat dengan Allah, insya Allah mereka akan lebih mudah membedakan mana yang baik dan mana yang tidak.


Muraqabatullah: Merasa Selalu Diawasi Allah


Dalam Islam ada satu nilai yang sangat penting, yaitu muraqabatullah. Sederhananya, muraqabatullah adalah kesadaran bahwa Allah selalu melihat setiap ucapan, perbuatan, dan pilihan yang kita ambil.

Jika kesadaran ini tumbuh dalam diri anak, mereka akan lebih berhati-hati saat menggunakan media sosial. Mereka tidak hanya berpikir, "Apakah Ayah dan Ibu melihat?" tetapi juga bertanya dalam hati, "Apakah Allah rida dengan apa yang sedang saya lakukan?"

Inilah benteng yang paling kuat di zaman sekarang. Ketika hati sudah terjaga, insya Allah perilaku juga akan ikut terjaga.


Teknologi Bukan Musuh


Di Madrasah Ibtidaiyah Ilham 1, kami percaya bahwa teknologi bukan sesuatu yang harus dijauhi. Teknologi adalah nikmat dari Allah yang bisa menjadi sarana belajar, berdakwah, dan memberikan manfaat jika digunakan dengan benar.

Karena itu, kami berusaha mendekatkan anak-anak kepada Al-Qur'an. Bukan sekadar mengejar hafalan, tetapi agar mereka mencintainya dan menjadikannya pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Kami juga mengajarkan bahwa adab tidak berhenti ketika seseorang membuka media sosial. Apa pun yang ditulis, dikirim, atau dibagikan tetap akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Anak-anak juga perlu memahami bahwa harga diri mereka tidak ditentukan oleh banyaknya followers, likes, atau komentar di media sosial. Kemuliaan seorang muslim terletak pada iman, akhlak, dan ketakwaannya kepada Allah.


Sekolah dan Orang Tua Harus Berjalan Bersama


Mendidik anak bukan hanya tugas sekolah dan bukan pula tugas orang tua semata. Keduanya harus saling mendukung karena anak membutuhkan lingkungan yang sama-sama mengajarkan nilai kebaikan.

Anak lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat daripada dari apa yang mereka dengar. Jika kita ingin mereka bijak menggunakan gawai, maka kita pun perlu memberi contoh. Luangkan waktu untuk berbincang bersama, makan bersama, membaca Al-Qur'an bersama, atau sekadar mendengarkan cerita mereka setelah pulang sekolah.

Biasakan juga mengobrol tentang apa yang mereka lihat di internet. Tanyakan siapa yang mereka ikuti di media sosial, video apa yang mereka sukai, dan apa yang mereka pelajari hari itu. Dari obrolan sederhana seperti ini, kita bisa mengenal dunia mereka sekaligus mengarahkan mereka dengan cara yang lembut.

Yang tidak kalah penting adalah doa.

Sebesar apa pun usaha kita menjaga anak, hanya Allah yang mampu menjaga hati mereka. Karena itu, mari terus memohon agar Allah memberikan hidayah, menjaga pandangan mereka, menjaga pergaulan mereka, dan menetapkan mereka di atas jalan yang lurus.


Harapan Kita Bersama


Kita semua tentu berharap anak-anak tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berakhlak mulia, dan mampu mengikuti perkembangan teknologi tanpa kehilangan jati dirinya sebagai seorang muslim.

Mereka mampu memanfaatkan teknologi untuk belajar, berkarya, berdakwah, dan memberikan manfaat bagi orang lain, bukan justru menjadi korban dari derasnya arus dunia digital.

Pada akhirnya, masa depan anak-anak kita bukan ditentukan oleh seberapa canggih gawai yang mereka miliki, melainkan oleh seberapa kuat iman yang tertanam di dalam hati mereka.

Semoga Allah menjaga anak-anak kita, membimbing setiap langkah mereka, melindungi mereka dari segala pengaruh yang buruk, dan menjadikan setiap jejak digital yang mereka tinggalkan sebagai amal kebaikan yang bernilai ibadah di sisi-Nya.

Aamiin.

MI ILHAM 1 · KOLOM INSPIRASI

Tulisan Lainnya